TERMINAL WISATA NUSA TENGGARA BARAT
Kebijaksanaan pembangunan transportasi udara dilakukan untuk menunjang keberadaan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu simpul jasa distribusi angkutan udara yang mendukung arus perdagangan dan wisata.Kebijaksanaan ini diwujudkan dengan meningkatnya kemampuan dan kinerja fasilitas bandar udara sehingga terselenggara pelayanan angkutan udara yang teratur, aman, nyaman, lancar, cepat dan efesien dengan biaya terjangkau oleh masyarakat.
Jaringan pelayanan transportasi udara pada tataran transportasi nasional yaitu rute utama dalam negeri dan luar negeri diarahkan mampu menghubungkan antara bandara pusat penyebaran dan atau internasional secara langsung.Jaringan pelayanan transportasi udara pada tataran transportasi wilayah yaitu rute pengumpan diarahkan mampu menghubungkan antara bandara bukan pusat penyebaran didalam satu provinsi, atau antara bandara bukan pusat penyebaran dengan bandara pusat penyebaran.
Sedangkan jaringan transportasi udara pada tataran transportasi lokal yaitu rute yang melayani bandara pada daerah terpencil/terisolasi/tertinggal diarahkan mampu dilayani oleh angkutan udara komersial dan atau non komersial (perintis).
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat 3 (tiga) Bandar Udara 1 bandara dikelola olehPT.(Persero) Angkasa Pura I dan 2 Bandara dibawah Ditjen Perhubungan Udara yaitu :
· Bandara International Lombok
· Bandar Udara Brangbiji
· Bandar Udara Muhammad Salahuddin
Dalam bebrapa tahun terakhir ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan PT. Trans Nusa melakukan beberapa terobosan salah satunya dengan memberikan subsidi bagi penumpang pesawat dengan rute penerbangan Mataram – Sumbawa PP dan Mataram – Bima PP dengan jadwal penerbangan 7 x dalam seminggu.
1. Bandara international Lombok
Lokasi Bandara Internasional Lombok di Tanak Awu, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok, Indonesia, barat daya Kota Mataram ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat dan beberapa kilometer barat daya dari kota kecil Praya. Bandara ini dibangun diatas lahan seluas 550 hektar yang menelan biaya Rp.625 milyar (US$73.100.000).
Bandara Internasional Lombok (BIL) memiliki beberapa nama yang diusulkan. Pada bulan Januari 2009 hasil jajak pendapat publik yang dilakukan di Lombok menunjukkan bahwa Bandara Internasional Lombok (BIL) dipilih oleh 40,4% responden, Bandara Internasional Sasak (BIS) 20%, Bandara Internasional Rinjani (BIR) 46 16,7%, Bandara Internasional Mandalika (BIM) 10,9%, Bandara Internasional Selaparang (SIA) 8%, Bandara Internasional Pejanggik (PIA) 2,9%, dan Bandara Internasional Arya Banjar rapuh (ABGIA).
Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I. dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi dari Bandara Selaparang Mataram.Terletak persis di jantung pulau "eksotik" Lombok tepatnya di Jalan Tanak Awu.Melayani penerbangan domestik maupun international. Maskapai yang melayani rute domestik seperti Garuda Indonesia, Merpati, Lion Air, Wings Air, Batavia Air, Trigana Air. Rute internasional dilayani oleh Silk Air.
Pada tanggal 20 Oktober 2011 Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan bandara ini. Arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat sasak, namun tentu saja menggunakan bahan-bahan modern baja galvanis.
Code IATA : LOP (Lombok praya)
2. Bandar udara brangbiji
Bandar udara Brangbiji adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.Bandar Udara Brangbiji Sumbawa Besar (di Kabupaten Sumbawa) sebagai bandara domestik dikelola oleh Pemerintah Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, dengan sarana/prasarana sebagai berikut : Landasan Pacu 1.450 m x 30 m (mampu didarati pesawat jenis F-27), Apron 70 m x 70 m, Lapangan Parkir 1.500 m2, Terminal (VIP) 60 m2, Terminal Domestic 690 m2. Perusahaan penerbangan/Airlines yang beroperasi secara berjadwal yaitu : PT. MNA, PT. Trans Nusa dengan rute penerbangan dari Bandara Brangbiji Sumbawa tujuan Mataram, Denpasar PP.
Kode IATA : SWQ Kode ICAO : WADS
3. Bandar udara Muhammad salahuddin
Bandara Muhammad Salahuddin adalah bandar udara yang terletak di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Bandar Udara Muhammad Salahuddin, diambil dari nama Sultan terakhir kerajaan Bima.
Bandar Udara Muhammad Salahuddin Bima (di Kabupaten Bima) sebagai bandara domestic dikelola oleh Pemerintah Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, dengan sarana/prasarana sebagai berikut : Landasan Pacu 1.650 m x 30 m (mampu didarati pesawat jenis F-28), Apron 171,6 m x 70 m, Lapangan Parkir 3.218 m2, Terminal (VIP) 280 m2, Terminal Domestic 1.800 m2. Perusahaan penerbangan/Airlines yang beroperasi secara berjadwal yaitu : PT. MNA, PT. Trans Nusa dengan rute penerbangan dari Bandara M. Salahuddin Bima tujuan Mataram, Denpasar, Ende, Lb. Bajo, Ruteng, Tambolaka, Bajawa
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat 601,83 km panjang Jalan Nasional, dengan 1.842,33 km panjang Jalan Provinsi. Terdapat 3 (tiga) jembatan timbang yang berfungsi sebagai sarana pengawasan/pengendalian kapasitas jalan nasional dan jalan provinsi, masing-masing terletak 2 (dua) unit di Pulau Lombok (Jembatan Timbang Kediri dan Jembatan Timbang Bertais) dan 1 (satu) unit di Pulau Sumbawa.
Simpul dan ruang lalu lintas transportasi jalan secara nasional dengan simpul berupa terminal type A dan terminal angkutan barang serta jaringan jalan nasional, sedangkan simpul dan ruang transportasi jalan dengan simpul berupa terminal peumpang type B dan jaringan jalan provinsi.
Pengembangan jaringan jalan diarahkan untuk memadukan serta mengintegrasikan dan mewujudkan keterpaduan pelayanan antar dan inter moda. Pengembangan jaringan jalan provinsi diwujudkan dalam jalan kolektor dalam sistem jalan primer yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota, atau antar ibu kota kabupaten/kota dan jalan strategis provinsi sesuai dengan kondisi geografis.
Prasarana jalan merupakan modal transportasi utama yang berperan penting dalam mendukung pembangunan serta memiliki kontribusi terbesar dalam kegiatan koleksi dan distribusi barang maupun jasa dibandingkan moda lain. Kualitas infrastruktur seperti kualitas prasarana jalan dengan kualifikasi baik mencapai 62,65% dan secara nasional berada pada posisi terbaik kedua setelah DKI Jakarta. Namun kondisi jalan tersebut mengalami penurunan drastis karena pertumbuhan lalulintas yang cukup tinggi dan muatan yang tak terkendali serta dipengaruhi oleh faktor umur rencana teknis jalan yang telah terlampaui. Kondisi untuk tahun lima tahun yang lalu secara terinci dapat dilihat dari Tabel 1.1 berikut.
TABEL
Panjang dan Kondisi Jalan Nasional dan Provinsi
di Provinsi NTB Tahun 2008
Panjang dan Kondisi Jalan Nasional dan Provinsi
di Provinsi NTB Tahun 2008
| No | Status | Panjang (km) | Konstruksi (km) | Kondisi (km) | |||
| Diaspal | Kerikil | Tanah | Mantap | Kurang Mantap | |||
| 1 | Nasional | 601,83 | 601,83 | 0 | o | 601,83 | 0 |
| 2 | Propinsi | 1.842,33 | 1.317,36 | 214,82 | 310,13 | 1.213,02 | 629,31 |
| 3 | kabupaten | 4.910,24 | 2.328,97 | 2.581,27 | 0 | 3.646,55 | 1.263,69 |
| | jumlah | 7.354,40 | 4.247,98 | 2.796,09 | 310,13 | 5.461,40 | 1.893,00 |
Prasarana terminal penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) sebanyak 30 (tiga puluh) terminal terdiri dari 3 (tiga) terminal type A, 3 (tiga) terminal type B dan 24 (dua puluh emat) terminal type C tersebar di 9 (sembilan) kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat.
TABEL
Terminal Penumpang di Provinsi NTB Tahun 2008
Terminal Penumpang di Provinsi NTB Tahun 2008
| Kabupaten/Kota | Type Terminal | ||
| A | B | C | |
| Kota Mataram | 1 | - | 1 |
| Kabupaten Lombok Barat | - | - | 2 |
| Kabupaten Lombok Tengah | - | 1 | 3 |
| Kabupaten Lombok Timur | - | 1 | 4 |
| Kabupaten Sumbawa | 1 | - | 3 |
| Kabupaten Sumbawa Barat | - | - | 1 |
| Kabupaten Dompu | - | 1 | 5 |
| Kota Bima | 1 | - | 2 |
| Kabupaten Bima | - | - | 3 |
| Jumlah | 3 | 3 | 24 |
Jumlah kendaraan bermotor di Nusa Tenggara Barat dalam tahun 2007 sejumlah 525.370 unit terdiri dari 22.896 unit mobil penumpang, 24.314 unit mobil barang, 8.029 unit bus dan 470.131 unit sepeda motor.
Jumlah armada/bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) yang beroperasi di Nusa Tenggara Barat dikelola oleh 12 perusahaan mengoperasikan bus sebanyak 161 unit dengan kapasitas 6.053 seat dengan rute jalur trayek sebanyak 19 jalur trayek menuju ke Surabaya, Malang, Ponorogo, Yogyakarta dan Jakarta.
Sedangkan armada bus Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang beroperasi antar kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat sebanyak 376 unit kapasitas 8.272 seat. Armada ngkutan sewa di Nusa Tenggara Barat dikelola 7 perusahaan mengoperasikan 61 armada sengan kapasitan 488 seat.Armada angkutan Pariwisata di Nusa Tenggara Barat dikelola 8 perusahaan mengoperasikan 73 armada dengan kapasitas 876 seat. Armada Taxi di Nusa Tenggara Barat di kelola oleh 4 perusahaan mengoperasikan 391 armada dengan kapasitas 1.955 seat.
Jembatan timbang merupakan alat untuk pengawasan muatan lebih sesuai dengan kapasitas kendaraan yang telah ditentukan. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat 3 (tiga) unit Jembatan Timbang yang terletak di Pulau Lombok sebanyak 2 (dua) unit dan di Pulau Sumbawa sebanyak 1 unit.
Pengadaan fasilitas jalan dimaksudkan untuk memberikan petunjuk bagi pengguna jalan dalam rangka mengurangi tingkat kecelakaan.Fasilitas jalan tersebut meliputi rambu lalu lintas, traffic light, warning light, pagar pengaman jalan, paku marka jalan serta marka jalan.
TABEL
Fasilitas Keselamatan Jalan pada Ruas Jalan Provinsi dan Jalan Negara/Nasional di NTB Tahun 2002-2007
Fasilitas Keselamatan Jalan pada Ruas Jalan Provinsi dan Jalan Negara/Nasional di NTB Tahun 2002-2007
| Uraian | Vol/Sat | Jalan Provinsi | Jalan Nasional | Jumlah |
| 1. Rambu Jalan 2. Marka Jalan 3. Guardrail 4. Trafic Light 5. RPPJ | Bh M’ M’ Unit Bh | 1.443 12.049 2.306 41 37 | 201 75.749 5.000 30 3 | 1.644 87.798 7.306 71 40 |
Ø Terminal mandalika
Terminal Mandalika Berbenah Terminal Induk di Kota ini terletak di sebelah Timur di kelurahan Bertais Kota Mataram.Terminal Mandalika sebagai terminal terbesar di NTB menjadi simpul pergerakan transportasi darat terpadat. Terminal ini melayani pergerakan angkutan baik itu antar propinsi maupun antar kabupaten kota di Nusa Tenggara Barat. Tuntutan akan peingkatan pelayanan yang lebih baik menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh pengelola terminal Mandalika dalam hal ini tentunya adalah Dinas Perhubungan Kota Mataram.
Menyadari hal tersebut Dinas Perhubungan Kota Mataram melakukan berbagai perbaikan dan peningkatan fungsi dan pelayanan terminal mandalika agar mampu memberikan pelayanan yang optimal bagi para calon penumpang angkutan darat. Pada tahun 2010 ini terminal Mandalika mendapatkan bantuan 2 milyar dari pemerintah pusat sebagai dana rehabilitasi terminal. Selain itu dana ini juga nantinya akan digunakan untuk membangun fasiltas terminal angkutan pemadu moda Bandara Internasional Lombok sehingga diharapkan para penumpang pesawat yang akan menuju bandara kan terlayani dengan baik.
Fasilitas ruang tunggu, ruang pengawasan maupun fasilitas penunjang terminal lainnya juga menjadi bagian dari rehabilitasi ini, diharapkan dengan adanya bantuan ini kesan kumuh dan kurang ptimalnya operasional terminal dapat diatasi. Disamping itu juga ada Terminal Kebon Roek yang berada di sebelah barat di wilayah Ampenan.
Terminal Kebon Roek
Terrminal kebon roek merupakan sarana transportasi darat melayani angkutan kota di Kota Mataram. Untuk sarana transportasi darat lainnya di kota ini dikenal dengan nama Cidomo, kendaraan seperti Bemo serta Ojek.
Transportasi penyebrangan dengan simpul pelabuhan penyebrangan lintas provinsi dan jaringan pelayanan angkutan penumpang dan barang lintas penyebrangan antar provinsi, sedangkan transportasi penyebrangan dengan simpul berupa pelabuhan penyebrangan lintas provinsi dan antar kota dan jaringan pelayanan angkutan penumpang dan barang lintas penyebrangan antar provinsi dan lintas penyebrangan antar kabupaten/kota.
Angkutan Laut / Sistem Transportasi Laut memegang peranan penting di Nusa Tenggara Barat untuk menghubungkan wilayah kabupaten (kabupaten/kota) yang letaknya dipisahkan oleh lautan.Transportasi Laut dengan simpul berupa pelabuhan umum regional, pelabuhan khusus regional, jaringan dan trayek dalam negeri, tarayek pengumpan dalam negeri, dan trayek perintis dengan dukungan sarana dan prasarana keselamatan pelayaran.
Sedangkan transportasi laut dengan simpul berupa pelabuhan umum lokal, pelabuhan khusus lokal, jaringan dan trayek pengumpan dalam kabupaten/kota.
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat 3 (tiga) pelabuhan laut sebagai pintu masuk ke NTB yang memegang peranan penting (pelabuhan yang diusahkan) secara operasional dikelola oleh BUMN yaitu PT. Pelindo III yaitu:
· Pelabuhan Laut Lembar
· Pelabuhan Laut Sumbawa Badas
· Pelabuhan Laut Bima
Selain itu ada 5 (lima) pelabuhan yang tidak diusahakan (Kanpel) dikelola oleh Pemerintah Cq. Ditjen Perhubungan Laut yaitu :
1. Pelabuhan Pemenang/Tanjung (bangsal),
2. Pelabuhan Lb. Lombok,
3. Pelabuhan Benete,
4. Pelabuhan Calabai, dan
5. Pelabuhan Sape.
Juga terdapat Pelabuhan Khusus (Pelsus) Pertamina (Pelabuhan Ampenan, Sumbawa, Bima)dan Pensus Benete merupakan pelabuhan khusus untuk memfasilitasi kegiatan pertambangan emas/tembaga di Pulau Sumbawa bagian Barat yang dikelola oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT) dan secara teknis operasional dibawah pengawasan Ditjen Perhubungan Laut.
Disamping itu pelabuhan lainnya yang dikelola oleh kabupaten yaitu Satker Senggigi (pelayanan wisata), Pelabuhan Tanjung Luar, Pelabuhan Labuhan Haji, Pelabuhan Lalar, Pelabuhan Alas, Pelabuhan Kempo, Pelabuhan Kenangan dll.
Di Nusa Tenggara Barat ada 3 (tiga) lintas penyebrangan atau terdapat 4 (empat) pelabuhan penyebrangan terdiri dari 2 (dua) lintas penyebrangan antar provinsi dan 1 (satu) lintas penyebrangan dalam provinsi yaitu :
ü Lintas Penyebrangan antar provinsi
ü Lintas penyebrangan dalam provinsi
Ø Lintas penyebrangan dalam provinsi
Lintas penyebrangan dalam provinsi yang menghubungkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa yaitu lintas penyebrangan Kayangan Poto Tano. Sarana/prasarana tersedia meliputi : Dermaga 2 (dua) unit, lapangan parkir 11.069 m2, terminal penumpang 541 m2. Luas areal masing-masing 100.000 m2, armada/kapal penyebrangan 10 unit dengan kapasitas 3.184 seat penumpang dan 181 unit kendaraan. Jarak lintasan 12 mile laut dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, frekwensi penyebrangan 32 trip/hari.
Pelabuhan Khayangan terletak di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang mulai ditata oleh pihak PT ASDP Pelabuhan Khayangan.
Dengan tidak lagi ditemukan para pedagang yang secara sembarangan menggelar jualannya di halaman parkir pelabuhan khayangan tersebut, karena tentunya sangat menganggu aktivitas para penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Sumbawa maupun sebaliknya.
Sementara untuk masalah para pedagang yang berjualan di dalam halaman parkiran pelabuhan khayangan tersebut, dari pihak PT.ASDP sudah membangunkan pusat pertokoan di pelabuhan kepada para pedagang yang berjualan di pelabuhan khayangan.
Dengan harapan kedepannya kondisi pelabuhan khayangan menjadi lebih nyaman,indah dan rapi serta tentunya kebersihan menjadi faktor utama yang harus dijaga dan dipelihara didalamnya. “PT ASDP pelabuhan Khayangan sudah mulai melakukan penataan secara baik,termasuk didalamnya penataan terhadap para pedagang yang berjualan di pelabuhan menjadi lebih terpokus,” tegas Manager Operasional PT.ASDP Pelabuhan Khayangan, M.Yasin.
Ia menegaskan sementara dari data yang ada jumlah pedagang yang berjualan di pelabuhan khayangan saat ini sebanyak 48 orang pedagang, belum termasuk didalamnya pedagang asongan yang hilir mudik menjajakan jualannya kepada para penumpang yang akan menyeberang dari pelabuhan khayangan menuju pelabuhan poto tano maupun sebaliknya.
Bahkan para pedagang asongan itu sampai masuk ke dalam setiap kapal yang bersandar untuk mengangkut penumpang didalamnya,hanya untuk mencari sesuap nasi untuk memenuhi hidup keluarganya setiap harinya melalui profesinya sebagai seorang pedagang.
Sementara dari PT ASDP Pelabuhan Khayangan sudah membangunkan pusat pertokoan bagi para pedagangan yang berjualan di pelabuhan khayangan, dengan mengomplek pada satu tempat yang jumlah pusat pertokoan yang dibangun sebanyak 68 lokal yang lokasinya masih berada didalam komplek pelabuhan khayangan.
Dengan harapan agar fasilitas yang disiapkan oleh PT.ASDP pelabuhan khayangan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknnya oleh para pedagang yang ada, dalam rangka untuk bersama-sama menjaga dan memelihara kondisi pelabuhan khayangan menjadi lebih baik lagi. “Apa yang kami lakukan ini tidak lain bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat secara bertahap, karena kalau tidak dimulai dari sekarang ini kapan lagi,” ujar M.Yasin.
Ia menambahkan selain itu juga penataan terhadap berbagai fasilitas pendukung yang ada di pelabuhan khayangan tersebut, dalam rangka untuk menyongsong beroperasinya Bandara International Lombok (BIL) yang merupakan bagian didalamnya.
Sehingga tentunya semua pihak yang ada di daerah ini bersama-sama memberikan dukungan dan peran serta didalamnya, untuk bersama-sama menjaga dan memelihara kondisi pelabuhan khayangan menjadi tetap aman, tanpa adanya gangguan didalamnya. “Kalau tidak ada dukungan dari semua lapisan masyarakat yang ada di daerah ini,maka tentunya apa yang diharapkan oleh pihak PT.ASDP tentunya tidak akan mungkin bisa terlaksana dengan baik,” tambah Menager Operasional PT.ASPD Pelabuhan Khayangan, M Yasin.(ant).
Lintas Penyebrangan antar provinsi
Lintas penyebrangan antar provinsi terdapat 2 (dua) lintasan yaitu :
Sarana prasarana yang tersedia meliputi : Dermaga 2 (dua) unit, Lapangan parkir seluas 8.796 m2, Terminal Penumpang 450 m2, Armada kapal penyebrangan 17 unit dengan frekwensi 36 kali/hari, jarak lintasan 36 mile laut dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.
Sebelum pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat dikembangkan, Ampenan merupakan pelabuhan laut yang ramai, Pelabuhan Ampenan ini berada di sebelah barat Kota Mataram, Namukarena faktor keganasan arus laut Selat Lombok, dipilihlah lokasi yang lebih ideal untuk pelabuhan Laut yaitu sekarang ini di Lembar.
Pelabuhan Pantai Ampenan dipindah lokasinya ke daerah Lembar b er dasarkan SK. MENHUB RI.KM. 77/LL305/PHB-77 tanggal 13 Oktober 1977.
Berdasarkan KM. 13/LL305/PHB-79 tanggal 11 Januari 1979 ditetapkan pengalihan kegiatan kepelabuhanan dari Pelabuhan Ampenan ke Pelabuhan Lembar di Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat, maka sejak itu telah diadakan pengalihan kegiatan kepelabuhanan dari Ampenan ke Lembar hingga sekarang.Untuk menunjang sektor pariwisata, sejak tahun 1993 terdapat kegiatan angkutan penyeberangan cepat dari Lembar-Benoa (PP) dengan menggunakan kapal cepat jenis Hydro Foil dengan rata-rata penumpang tiap hari 100 orang. Pada musim tertentu (bulan Nopember-Maret), Pelabuhan Lembar ramai dikunjungi kapal wisata asing dari manca negara.
Hal ini telah ditunjang dengan keluarnya kebijaksanaan pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 30 Nopember 1994 bahwa Pelabuhan Lembar telah ditetapkan sebagai daerah bebas visa kunjungan singkat.
Pelabuhan Lembar disinggahi oleh kapal penumpang PT. PELNI sebanyak 8 (delapan) kali perbulan dengan rata-rata penumpang 1.500 orang/kapal serta kapal cepat PT. ASDP (Persero) 2 (dua) kali seminggu. Packing Plant Indocement akan dibangun di wilayah yang berada di Daerah Lingkungan Kerja (DLKR) Pelabuhan Lembar dengan kapasitas 250.000 ton pertahun dan juga akan dibangun untuk Docking Repair kapal-kapal dengan Dead Weight Tonage (DWT) kapal rata-rata ukuran 1000 - 1500 Ton.
menghubungkan Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sarana/prasarana tersedia (Sape-Komodo-Lb.Bajo) meliputi : Dermaga 1 unit, Lapangan Parkir 1.000 m2, Terminal penumpang 150 m2. Armada/kapal penyebrangan 2 unit, Jarak lintasan 90 mile laut dengan waktu tempuh sekitar 10 jam, ferkwensi penyebrangan 1 trip/hari.
Sarana/prasarana tersedia (Sape-Waekelo) meliputi :
Dermaga 1 unit, lapangan parkir 1.000 m2, terminal penumpang 150 m2. Armada/kapal penyebrangan 2 unit dengan kapasitas 800 seat penumpang dan 40 unit kendaraan. Jarak lintasan 78 mile laut dengan waktu tempuh sekitar 8 jam, frekwensi penyebrangan 3 trip/minggu.
Semua pelabuhan penyebrangan pada lintas pernyebrangan tersebut diatas merupakan pelabuhan penyebrangan yang dikelola oleh BUMN yaitu PT.Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP).
Ø Pelabuhan Bangsal.
Pelabuhan yang terletak di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara NTB ini merupakan pintu gerbang bagi wisatawan baik domestik maupun luar negri, yang akan menuju tiga gili, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Kalau dari pusat Kota Mataram terdapat dua jalur yang bisa dilalui, yang pertama melewati jalur sepanjang pantai barat Lombok dengan jalan bagus, dan cukup luas, sedangkan jalur kedua yaitu melewati Kawasan Hutan Pusuk yang dipenuhi ratusan monyet, jalannya bagus, tapi agak sempit.
Waktu yang dibutuhkan dari pusat kota menuju pelabuhan ini kira-kira setengah jam menggunakan kendaraan pribadi. Setelah masuk pintu gerbang bertuliskan "Welcome to Bangsal", anda akan menjumpai petugas dishub berbaju biru muda menjaga pintu parkir. Di sini petugas tersebut akan mengarahkan wisatawan yang datang menggunakan kendaraan untuk masuk tempat parkir. Padahal jarak antara tempat parkir dan pelabuhan masih jauh sekitar 300 meter.Dan di dalam tempat parkir tersebut sudah siap siaga cidomo cidomo yang siap mengantar wisatawan ke Pelabuhan.
Ternyata di dalam tempat parkir tersebut juga ada satu petugas yang jaga, disitu bisa nego pada petugas agar mobil bisa masuk sampai pelabuhan, dengan membayar Rp 20.000,00.
Setelah membayar uang tersebut, mobil bisa bebas melenggang masuk pelabuhan tanpa dihalang=halangi petugas.Sampai di pelabuhan, langsung diserbu penjual-penjual sandal jepit maupun topi.Bangunan penjualan tiket kapal disitu sangat memprihatinkan, kotor dan terkesan tidak terawat, di dinding ada semacam pigura besar seperti tempat majalah dinding yang di dalamnya terdapat tempelan kertas-kertas yang sudah sobek dan lusuh.Lantai kotor becek karena habis hujan, toilet yang bau, hhmm pokonya terkesan jorok, mengenaskan, padahal di situ banyak turis mancanegara.Untuk menyeberang ke Gili Trawangan cukup membeli tiket sepuluh ribu rupiah, namun tidak langsung berangkat, setelah membeli tiket, harus menunggu dulu sampai kapal penuh, baru bisa berangkat.
Ø Proyek Pelabuhan Awang
Komisi II DPRD NTB menilai kebijakan pemprov NTB yang menyerahkan kelanjutan proyek Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Awang di desa Awang, Pujut Lombok Tengah (Loteng) kepada pemkab Loteng sebagai suatu langkah yang mundur. Pasalnnya, Pemkab Loteng yang diserahkan wewenang untuk melanjutkan proyek itu kini belum mampu sepenuhnya mengerjakan dengan alasan anggaran yang terbatas.
Anggaran untuk membangun proyek PPN Awang berasal dari dana APBN. Komunikasi pemerintah pusat dengan pemeritah provinsi sebelumnya sudah terjalin dengan baik terutama menyangkut lobi-lobi anggaran.Namun dengan penyerahan proyek tersebut kepada kebupaten, diyakini alur distribusi anggaran dari pusat menjadi seret.” kata anggota komisi II DPRD NTB Baiq Indah Puspitasari kepada Global FM Lombok di Mataram Sabtu (6/11).Politisi perempuan dari partai Golkar ini menilai pemerintah provinsi setengah hati dalam mengawal pembangunan proyek fisik yang sangat bermamfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah ini.
Mengingat pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan berskala nasional, maka sebaiknya pemerintah provinsi tetap bertanggung jawab dalam hal pemberian dana dari APBD serta membantu akses anggaran dari APBN secara optimal.PPN Awang sebenarnya direncanakan bisa tuntas pada tahun 2012. Namun melihat kondisi proyek yang masih terkatung-katung, tidak mungkin proyek nasional ini akan selesai tepat waktu. PPN Awang akan dibangun dilahan seluas enam hektar dengan kebutuhan dana sekitar Rp 110 milyar. Kabarnya dana yang sudah masuk ke proyek pelabuhan Awang sekitar Rp 39 milyar dari APBN dengan capaian pengerjaan proyek sekitar 30%.
Ø Pelabuhan Badas
Pelabuhan Badas terletak di Sumbawa Besar. Pelabuhan ini melayani kapal barang dan juga melayani penyebrangan dari daratan Sumbawa ke Pulau-Pulau lain.
| 1. Lokasi : LB. Badas/Kab. Sumbawa Besar |
| 2. Letak Geografis: 080-27’-47” LS /1170-22’-34” BT |
| 3. Status |
| a. Pelabuhan : Diusahakan (PP 58th 1991 tgl 19 oktober 1991) |
| b. Perairan : Tidak Wajib Pandu |
| 4. Klas ( I/II/III/IV/V ) : Kawasan |
| 5. Luas Lingkungan Kerja |
| a. Perairan ( Ha ) : 756 Ha |
| b. Daratan : 45.544 Ha |
| 6. Alur Pelayaran |
| a. Panjang ( M’ ) : 500 m’ |
| b. Lebar ( M’ ) : 150 m’ |
| c. Rintangan Bawah Air : Pasir |
| d. Konstruksi Bawah Air : - |
| 7. Kedalaman ( LWS ) |
| a. Alur Pelayaran ( M’ ) : 20 m’ |
| b. Kolam Pelabuhan (M’) : 5 s/d 27 m’ |
| c. Di Depan Dermaga (M’) : 11 m’ |
| 8. Perbedaan Pasang surut Max : 1.25 m’ |
| 9. Lain-lain |
| a. Kecepatan arus (knot) : 4 M/detik |
| b. Musim rawan kecelakaan : - ( barat/utara ) |
| FASILITAS PELABUHAN |
| 1. Dermaga Nusantara |
| a. Panjang ( M’ ) : 159 m’ |
| b. Lebar ( M’ ) : 10 m’ |
| c. Konstruski : Beton |
| d. Kapasitas ( T/M2 ) : 2 T/m2 |
| e. Kondisi : Baik |
| 2. Dermaga PELRA |
| a. Panjang ( M’ ) : 50 m’ |
| b. Lebar ( M’ ) : 8 m’ |
| c. Konstruski : Beton |
| d. Kapasitas ( T/M2 ) : 2 T/m2 |
| e. Kondisi : Baik |
| 3. Trestle/Coastway |
| a. Jumlah ( Bh ) : 3 Bh |
| b. Panjang ( M’ ) : 6 m’ |
| c. Lebar (M’) : 6 m’ |
| d. Konstruksi : Beton |
| e. Kapasitas (T/M2) : 1.5 T/M2 |
| f. Kondisi : Baik |
| 4. Gudang |
| a. Jumlah ( Bh ) : 1 Bh |
| b. Luas ( M2 ) : 360 m2 |
| c. Konstruksi : Permanen |
| d. Kapasitas (T/M2) 2T/M2 : 2 T/M2 ( 1.200 & 1.250 ) |
| e. Kondisi : Baik |
| 5. Lapangan Penumpukan G.C |
| a. Luas (M2) : 822 M2 |
| b. Kapasitas ( T/M2 ) : - T/M3 |
| 6. Lapangan Penumpukan (Non Permanaen |
| a. Luas (M2) :- M2 |
| b. Kapasitas ( T/M2 ) :- T/M2 |
| 7. Terminal Penumpang |
| a. Konstruksi : Permanen |
| b. Jumlah Lantai ( LT ) : 1 LT |
| c. Luas (M2) : 200 M2 |
| d. Kapasitas ( Org ) : 75 Org |
| e. Kondisi : Baik |
| 8. Lapangan Parkir |
| a. Luas ( M2 ) : 300 M2 |
| b. Konstruksi : Aspal |
| c. Kapasitas (kend ) : 20 Kend |
| b. Kondisi : Baik |
| 8. Peralatan bongkar/muat |
| a. Mobil Crane ( Unt ) : - |
| b. Forklip ( Unt ) : - |
| c. Kapasitas ( TLC ) : - |
| d. Kondisi (B/R/RS) : - |
| 9. Prasarana Jalan |
| a. Panjang : 1.500 M |
| b. Lebar : 6 M |
| c. Konstruksi ( aspal/tanah ) : Aspal |
| d. Kondisi ( B/R ) : Baik |
| 10. Penerangan |
| a. PLN ( KVA ) : 1300 KVA |
| b. Genset ( Unit/KVA ) : - Unit |
| 11. Fasilitas Air Tawar |
| a. Kapasitas ( T/jam ) : 15 T/J |
| b. Jml. Hydran di Dermaga (bh) : 4 bh |
| 12. Fasilitas Bunker : ( Mobil Tangki ) |
| 13. Fasilitas docking/galangan kapal : - |
| 14. Fasilitas Keselamatan Pelayaran |
| a. Kapal tunda/cap : - |
| b. Kapal pandu/cap : - |
| c. Kapal patroli bandar/cap : - |
| d. SROP : Ada |
| e. Lampu pel/menara/pelamp suar: - |
| 15. Perlengkapan SAR |
| a. Rinci ( Jenis/kapasitas ) : - |
| b. Lain-lain : - |
| 16. Pemadam Kebakaran |
| a. Mobile PMK (Unit) : - |
| b. Portable (bh) : - |
| 17. Gedung Kantor ADPEL |
| a. Luas/lantai (M2) : - |
| b. Konstruksi : - |
| c. Kondisi : - |
| 18. Kantor PT. Pelindo |
| a. Luas/lantai (M2) : 232.5 M2 |
| b. Konstruksi : Permanen |
| c. Kondisi : Baik |
| 19. Lain-lain ( Mushalla/masjid ) |
| a. Luas/lantai (M2) : 70 M2 |
| b. Konstruksi : Permanen |
| c. Kapasitas : 75 orang |
| d. Kondisi : Baik |
Ø Labuhan Lalar
Rencana Pemda KSB membangun dermaga Pelabuhan Lalar yang diarahkan sebagai pelabuhan niaga dan penyeberangan terutama untuk membuka akses wilayah Sumbawa Barat sisi Selatan melalui Taliwang sebagai ibukota kabupaten dengan Pulau Lombok, tepatnya berlokasi di daerah Labuhan Lalar.
Rencana pembangunan dermaga Pelabuhan Lalar ini telah mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat. Pembangunan dermaga palabuhan ini sebagai prasarana infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah, terutama kota Taliwang serta sebagai prasarana publik untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Beberapa sasaran dan strategi pengembangan Pelabuhan Lalar
ü Memaksimalkan keuntungan bagi perekonomian secara lokal maupun regional
ü Memaksimalkan penampungan lapangan pekerjaan.
ü Meminimalkan waktu putar (turn round time) kapal di pelabuhan
ü Memaksimalkan utilisasi fasisilitas dan arus barang serta kunjungan kapal.
ü Memudahkan arus lalu-lintas penumpang
Sebagai tindak lanjut dari perencanaan pembangunan dermaga Pelabuhan Lalar tersebut, Pemerintah KSB telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak pada tanggal 7 Januari 2008 yang membahas tentang site rancangan pembangunan dermaga pelabuhan tersebut.
Rancangan pembangunan dermaga Pelabuhan Lalar dibagi dalam beberapa kawasan yaitu
ü Kawasan Penyeberangan
ü Kegiatan Bongkar/Muat
ü Perbekalan
ü Administrasi dan Perkantoran
ü Industri dan Pergudangan
ü Kegiatan Sosial
Ø Labuhan Benete
Pelabuhan Khusus Benete PT Newmont Nusa Tenggara terletak di Teluk Benete, Desa Goa, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa di Propinsi Nusa Tenggara Barat.Pelabuhan ini memiliki kolam perairan yang tenang dan cukup terlindungi untuk olah gerak kapal.Pelabuhan ini beroperasi selama 24 jam penuh dengan estimasi sandar kapal berkapasitas 30.000 sampai dengan 40.000 ton diperkirakan memakan waktu 10 – 12 jam. Untuk mendapatkan gambaran kegiatan pelsus Benete, selama bulan Mei lalu lintas kapal mencapai 22 buah kapal, dengan jumlah bongkar mencapai 61.638,56 ton dan jumlah muat mencapai 87.509,62 ton.
Ø Fasilitas
1) Cakupan pekerjaan secara keseluruhan bagi fasilitas pelabuhan di Pantai Benete ini meliputi hal-hal utama berikut ini:
2) Fasilitas Keselamatan Pelayaran:
3) Fasilitas Penunjang